SELAMA HIDUP.. TIDAK PERNAH SHOLAT , NAMUN DIJAMIN MASUK SURGA OLEH RASULULLAH Ternyata Mengamalkan Ini...
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa urusan surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah SWT yang memiliki timbangan dan ketetapan-Nya sendiri.
Amalan dan Ketetapan Akhir Hayat
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sesungguhnya amalan seseorang itu sangat ditentukan oleh bagaimanakah akhir hayatnya. Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menunjukkan bahwa seseorang yang terlihat rajin beribadah semasa hidupnya bisa saja berakhir di neraka jika ia memiliki tabiat buruk yang merusak pahalanya, seperti menyakiti tetangga.
Sebaliknya, ada pula orang yang semasa hidupnya tidak dikenal sebagai ahli ibadah, namun di akhir hayatnya mendapatkan tempat terbaik di surga karena ketulusan hatinya di hadapan Allah SWT. Salah satu contoh nyata dari fenomena ini adalah kisah seorang sahabat Nabi bernama Amru bin Tsabit.
Mengenal Sosok Amru bin Tsabit (Al-Ushairim)
Amru bin Tsabit, atau yang lebih dikenal dengan julukan Al-Ushairim, berasal dari Bani Abdul Asyhal. Pada awalnya, ia adalah seorang lelaki yang sangat keras menolak dakwah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, meskipun kaum dan keluarganya sudah berbondong-bondong memeluk agama tersebut.
Namun, hidayah Allah datang pada momen yang tidak terduga. Tepat ketika berkecamuknya Perang Uhud, Allah SWT menggerakkan hati Amru untuk menerima Islam. Tanpa menunda waktu, ia langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Syahid di Medan Uhud Tanpa Sempat Salat
Setelah menyatakan keislamannya, Amru segera mengambil pedangnya dan langsung memacu kudanya menuju medan pertempuran di Bukit Uhud untuk menyusul pasukan Muslimin. Ia maju ke garis depan dan bertempur dengan gagah berani melawan kaum kafir Quraisy hingga menderita luka yang sangat parah.
Ketika perang usai, kaum Muslimin dari Bani Abdul Asyhal sedang memeriksa para korban yang gugur maupun terluka. Mereka sangat terkejut saat menemukan Amru bin Tsabit tergeletak di antara para korban dalam kondisi kritis. Mereka bertanya-tanya, apa yang membuat Amru ada di tempat ini, apakah ia berperang demi membela kaumnya atau demi membela Islam?
Saat ditanya, Amru dengan sisa-sisa kekuatannya menjawab bahwa ia datang murni karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta telah menyatakan diri masuk Islam. Tidak lama setelah menyampaikan kesaksian iman tersebut, Amru mengembuskan napas terakhirnya dan wafat sebagai seorang syuhada.
Jaminan Surga dari Rasulullah SAW
Kisah wafatnya Amru bin Tsabit kemudian disampaikan oleh para sahabat kepada Rasulullah SAW. Mendengar penuturan tersebut, Baginda Nabi Muhammad SAW tersenyum dan bersabda yang artinya: "Sesungguhnya ia termasuk penghuni surga."
Kisah ini sempat membuat terheran-heran sahabat lain seperti Abu Hurairah RA. Ia sering melemparkan teka-teki kepada orang-orang, "Tunjukkan kepadaku seseorang yang masuk surga padahal belum pernah salat sekali pun selama hidupnya?" Jika orang-orang tidak tahu jawabannya, Abu Hurairah akan menjelaskan bahwa orang tersebut adalah Al-Ushairim alias Amru bin Tsabit. Ia masuk Islam dan langsung gugur di medan perang sebelum datangnya waktu salat berikutnya, sehingga ia belum sempat mendirikan salat satu rakaat pun.
Pelajaran Penting: Kewajiban Salat Tetap Mutlak
Meskipun kisah Amru bin Tsabit menunjukkan kemurahan rahmat Allah SWT, kisah ini tidak boleh dijadikan alasan bagi umat Islam saat ini untuk meremehkan ibadah salat. Status Amru yang masuk surga tanpa salat terjadi karena ia wafat sesaat setelah bersyahadat, sebelum kewajiban salat di waktu berikutnya tiba.
Bagi setiap Muslim yang sudah lama memeluk Islam dan hidup dalam kondisi normal, salat lima waktu tetaplah merupakan kewajiban yang sangat mengikat. Mengabaikan atau meninggalkan salat fardu dengan sengaja merupakan dosa besar yang dapat mendatangkan hukuman keras, bahkan menurut ijmak para ulama terkemuka seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad.
Kisah Al-Ushairim mengajarkan kepada kita tentang betapa mahalnya nilai sebuah hidayah dan ketulusan iman di akhir hayat. Sebuah amalan yang dilakukan dalam waktu singkat namun didasari keikhlasan penuh dan pengorbanan jiwa raga, mampu mengantarkan seorang hamba langsung menuju surga Allah SWT.